Sunday, July 29, 2012

Doa berbuka puasa yang shahih


Menjelang Ramadhan : Doa Berbuka Puasa yang Shahih


Oleh:Ummu Asiyah Athirah
Masyhur, tak selamanya jadi jaminan. Begitulah yang terjadi pada “doa berbuka puasa”. Doa yang selama ini terkenal di masyarakat, belum tentu shahih derajatnya.
Terkabulnya doa dan ditetapkannya pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dari setiap doa yang kita panjatkan tentunya adalah harapan kita semua. Kali ini, mari kita mengkaji secara ringkas, doa berbuka puasa yang terkenal di tengah masyarakat, kemudian membandingkannya dengan yang shahih. Setelah mengetahui ilmunya nanti, mudah-mudahan kita akan mengamalkannya. Amin.
Doa Berbuka Puasa yang Terkenal di Tengah Masyarakat
Lafazh pertama:
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Doa ini merupakan bagian dari hadits dengan redaksi lengkap sebagai berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”[1]
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, dan dinilai dhaif oleh Syekh al-Albani dalamShahih wa Dhaif Sunan Abi Daud.
Penulis kitab Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan menuturkan, “(Hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (2/316, no. 358). Abu Daud berkata, ‘Musaddad telah menyebutkan kepada kami, Hasyim telah menyebutkan kepada kami dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya dia menyampaikan, ‘Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan, ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.’”[2]
Mua’dz ini tidaklah dianggap sebagai perawi yang tsiqah, kecuali oleh Ibnu Hibban yang telah menyebutkan tentangnya di dalam Ats-Tsiqat dan dalam At-Tabi’in min Ar-Rawah, sebagaimana al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Tahdzib at-Tahdzib (8/224).[2]
Dan seperti kita tahu bersama bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh para ulama sebagai orang yangmutasahil, yaitu bermudah-mudahan dalam menshohihkan hadits-ed.
Keterangan lainnya menyebutkan bahwa Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits inimursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if.[3]
Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat perowi dho’if yaitu Daud bin Az Zibriqon, di adalah seorang perowi matruk (yang dituduh berdusta). Berarti dari riwayat ini juga dho’if. Syaikh Al Albani pun mengatakan riwayat ini dho’if.[4]
Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.[5]
Lafazh kedua:
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka).”
Mulla ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan ‘wa bika aamantu‘ adalah tambahan yangtidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih.”[6]
Artinya do’a dengan lafazh kedua ini pun adalah do’a yang dho’if sehingga amalan tidak bisa dibangun dengan do’a tersebut.
Berbuka Puasalah dengan Doa-doa Berikut Ini
Do’a pertama:
Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam,
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678) [7]
Periwayat hadits adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Pada awal hadits terdapat redaksi, “Abu Hurairah berkata, ‘Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan ….‘”
Yang dimaksud dengan إذا أفطر adalah setelah makan atau minum yang menandakan bahwa orang yang berpuasa tersebut telah “membatalkan” puasanya (berbuka puasa, pen) pada waktunya (waktu berbuka, pen). Oleh karena itu doa ini tidak dibaca sebelum makan atau minum saat berbuka. Sebelum makan tetap membaca basmalah, ucapan “bismillah” sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebuthasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)
Adapun ucapan وثبت الأجر maksudnya “telah hilanglah kelelahan dan telah diperolehlah pahala”, ini merupakan bentuk motivasi untuk beribadah. Maka, kelelahan menjadi hilang dan pergi, dan pahala berjumlah banyak telah ditetapkan bagi orang yang telah berpuasa tersebut.
Do’a kedua:
Adapun doa yang lain yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ashradhiyallahu ‘anhuma adalah,
اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ
“Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii-ed”
[Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku](HR. Ibnu Majah: 1/557, no. 1753; dinilai hasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk kitab al-Adzkar; lihat Syarah al-Adzkar: 4/342) [8]
—
[1] Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Kitab ash-Shaum, Bab al-Qaul ‘inda al-Ifthar, hadits no. 2358.
[2] Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan, hlm. 74-75.
[3] Lihat Irwaul Gholil, 4/38-ed.
[4] Lihat Irwaul Gholil, 4/37-38-ed.
[5] Lihat Zaadul Ma’ad, 2/45-ed.
[6] Mirqotul Mafatih, 6/304-ed.
[7] Syarah Hisnul Muslim, bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 176.
[8] Syarah Hisnul Muslim, bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 177.
Referensi:
Irwaul Gholil fii Takhrij Ahadits Manaris Sabil, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Al Maktab Al Islami, cetakan kedua, 1405 H
Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, Mala ‘Ali Al Qori, Asy Syamilah.
Syarah Hisnul Muslim, Majdi bin ‘Abdul Wahhab al-Ahmad, Disempurnakan dan Dita’liq oleh Penulis Hisnul Muslim (Syekh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani).
Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Syekh Muhammad Nashirudin al-Albani, Maktabah al-Ma’arif, diunduh dari www.waqfeya.com (URL: http://s203841464.onlinehome.us/waqfeya/books/22/32/sdsunnd.rar)
Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan, Syekh Abdullah Muhammad al-Hamidi, Dar Ibnu Hazm, diunduh dari www.waqfeya.com (URL: http://ia311036.us.archive.org/0/items/waq57114/57114.pdf)
Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Tahqiq: Syaikh ‘Abdul Qodir ‘Arfan, Darul Fikr, cetakan pertama, 1424 H (jilid kedua).
Muroja’ah: Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: Muslimah.or.id

Tazkirah Ramadhan


Tazkirah Ramadhan : Persediaan Menghadapi Ramadhan..


Assalamualaikum...
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan.
Ramadhan al Mubarak semakin menghampri kita. Bersediakah kita?
Alhamdulillah kita berpeluang lagi untuk menemui bulan yg penuh berkah ini lagi.
Bulan yang besar dan penuh keberkatan serta banyak kelebihannya haruslah disambut dengan penuh perasaan ta’zim (membesarkan) dan mengalu-alukannya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang terlalu banyak kelebihannya. Di dalamnya terdapatnya malam lailatul Qadar iaitu malam kemuliaan yang lebih baik dari 1000 bulan.
Pada bulan tersebut Allah membuka pintu syurga, menutup pintu neraka dan mengikat syaitan-syaitan untuk memberi peluang kepada manusia membersihkan diri mereka sebersih-bersihnya. Amal-amal ibadah dan kebajikan digandakan Allah di mana yang sunat diberi pahala wajib/fardhu dan yang fardhu menyamai 70 fardhu di bulan-bulan yang lain.
Adalah wajib sebelum menjelang sahur keesokannya kita membaca niat puasa :
Maka bagaimanakah caranya kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang mulia ini? Persediaan yang rapi dan terancang sangat penting dalam menjayakan Ramdhan kali ini. Janganlah sia-siakan peluang kali ini kerana entah-entah inilah Ramadhan terakhir buat kita.  
Mari kita rebut peluang ini!
  • Pertama, sebagai muslim yang benar-benar prihatin dengan kehadiran Ramadhan, kita hendaklah menjaga kesihatan kita sebaik mungkin, supaya kita tidak terlepas peluang untuk melakukan ibadat. Bukankah ini bulan untuk mengumpul pahala sebanyak mungkin? Oleh itu, jagalah kesihatan supaya kita tidak miss melakukan ibadah seperti solat tarawikh.
  • Menyemak semula hukum-hakam yang berkaitan dengan pengertian puasa, hikmah, rukun dan perkara-perkara yang membatalkan puasa agar ibadah yang dilalui tidak sia-sia.
  • Mengambil tahu amalan-amalan sunat yang sangat digalakkan ketika berpuasa seperti membaca al-quran, bersedekah dan membantu golongan yang susah. Di samping itu hendaklah juga mengetahui fatwa-fatwa berkaitan dengan permasalahan semasa yang berkaitan dengan puasa.
  • Menanamkan keazaman dengan penuh ikhlas untuk menumpukan sepenuhnya bulan ini dengan amal ibadah. Kehadiran ke masjid bukan kerana malu kepada orang ramai tetapi benar-benar mengharapkan pengampunan dari Allah Taala :)
  • Sentiasa berdoa Allahumma Ballighna Ramadhan
  • Mujahadah untuk bangun malam (beberapa kali seminggu). Supaya kita tidak liat lagi bangun malam di bulan Ramadhan
  • Menjaga lidah dari perkara keji seperti mengumpat dan mencaci. Yang mana suka banyak cakap tu, eloklah mula diam dari bercakap perkara yang sia-sia. Ingat, semakin banyak percakapan kita, semakin banyak silap yang kita lakukan.
  • Mengingatkan orang lain tentang kepentingan membuat persediaan menyambut Ramadhan
  • Membuat semakan amalan di bulan Ramadhan tentang segala yang dibincangkan diatas.
Para sahabat yang bersama dengan Rasulullah s.a.w dididik  menyambut dan menanti Ramadhan dengan penuh kerinduan dan kecintaan. Ini terbukti dengan doa mereka selama enam bulan sebelum Ramadhan menharap agar bertemu dengannya. Kemudiannya, enam bulan selepas Ramadhan pula disi dengan tangisan kerana berlalunya Ramadhan.
Sahabat yang mulia, bagaimanakah kita?
*Di kesempatan ini juga saya ingin memohon maaf di atas segala kekhilafan saya selama ini, semoga Ramadhan kali ini adalah satu penghijrahan yg baru bukan hanya kepada saya, malah kepada anda semua. Bulan ini adalah bulan yg berpeluang untuk memperolehi Magrifah-Nya, hiasilah, penuhilah, bulan Ramadhan yg penuh berkah ini dengan amal ibadah..InsyaAllah..*
Source : akuislam.com

Lafadz Niat Puasa Ramadhan


DO’A NIAT PUASA RAMADHAN 

niat puasa ramadhan
niat puasa ramadhan
nawaitu souma godhin an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi taaalaa
Artinya : Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini kerana Allah Taala

Doa buka puasa


Doa Berbuka Puasa ::.


===================
DO'A BERBUKA PUASA
===================

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, Insya Allah ...

HR. Abu Dawud no. 2357, ad-Daraquthni III/401 no. 2247, al-Hakim I/422.
Lihat Irwaa'ul Ghaliil IV/39 no. 920, Shahiih Abi Dawud III/449 no. 2066, hasan ...

Cinta sejati dalam Islam


>Cinta Sejati Dalam Islam

27SEP
>
Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).
Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.
Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?
Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.
Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.
Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.
Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)
Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102
“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.
Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.
***
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com
Footnote:
1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

Cinta Sejati


Cinta Sejati

Posted by rikypeace pada Oktober 27, 2009
Kujalani hidup mengaruhi samudra
Mengayuh dayung menjalankan bahtera
Mencari penawar rasa di hati
Mencari makna cinta sejati
Kini ku tahu makna cinta
Cinta bukanlah sekedar rasa
Cinta bukanlah sekedar tutur kata
Dan cinta, bukan sekedar pengorbanan raga
Jika cinta sekedar rasa
Pasti hati kan tersiksa
Jika cinta sekedar ucapan
Manusia pasti dalam kebinasaan
Jika cinta sekedar pengorbanan
Tiada jiwa ini merasa aman
Cinta sejati adalah perasaan
Terungkap dengan ucapan
Tertuang dengan pengorbanan

Cinta


Cinta

download

Arti Cinta


ArTi CiNtA

arti-cinta
Adakah secercah harapan yang kau titipkan untukku
Adakah sekeping cinta hati yang bisa aku singgahi
Adakah segenggam mimpi yang bisa kau simpan untukku..
Agar kepingan ini bisa bersatu kembali.
Setelah hancur berkeping-keping..
Cinta…
Hidup terasa hampa tanpamu..
Raga ini terasa hancur
Bagai puing-puing bangunan
Yang berserakan tanpa sentuhan kasihmu..
Cinta…
Setiap orang selalu memanggil manamu
Setiap orang selalu membutuhkanmu
Setiap orang berusaha menggapaimu
Cinta….
Mengapa ada saja yang selalu mengganggumu
Mengapa ada saja yang selalu mempermainkanmu
Merayumu, membuaimu..
Kemudian mencampakkanmu..
Cinta…
Engkau terlalu indah untuk disakiti
Engkau terlalu berharga untuk dipermainkan
Engkau terlalu sempurna untuk dicampakkan.
Cinta…
Jadilah engkau bak mutiara dilautan
Yang selalu bersinar
Memancarkan cahayanya yang berkilauan
Walau engkau berada dalam lumpur yang paling dalam..
Cinta….
Sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling….(saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll).
Cinta……
Tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat berjalan apabila ke-2 belah phiak melakukan “saling” tersebut…
cinta…..
Tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri.
Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih
dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.
Cinta adalah memberikan kasih sayang bukannya rantai.
Cinta juga tidak bisa dipaksakan dan datangnya pun kadang secara tidak di sengaja.
Cinta indah namun kepedihan yang ditinggalkannya
kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri.
Batas cinta dan benci juga amat tipis
tapi dengan cinta dunia yang kita jalani serasa lebih ringan.
Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya
karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah dan lain lain).
Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan,
haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya,
tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak.
Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama.
Cinta….
Sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci
yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat,
Pribadi cinta itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik daripada sebelum ia mengenal cinta itu.
Cinta itu sesuatu yang suci dan janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan ke-egoisan kita
yang hanya menginginkan enaknya buat kita dan ndak enaknya buat kamu.
cinta dibutuhkan PENGERTIAN!
Suatu perasaan terdalam manusia yangmembuatnya rela berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya.
Pengorbanannya itu tulus, tidak mengharap balasan.
Kalau misalnya memberi banyak hadiah ke seseorang tapi dengan syarat orang itu harus membalasnya dengan mau jadi kekasihnya, itu bukan cinta namanya.
Cinta tidak bisa diukur dengan materi ataupun yang berasal dari dunia fana.
Dan percayalah… cinta terbesar biasanya selalu datang dari ibu kandung, bukan dari pacar (sebab cinta pacar bisa luntur suatu saat atau setelah menikah kelak).
Cinta, membuat bahagia, duka ataupun buta.
Cinta itu penuh pengorbanan, kepahitan, keindahan dan kehangatan.
Cinta adalah sebuah keinginan untuk memberi tanpa harus meminta apa-apa,
namun cinta akan menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. CInta adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan. Ai wa atatakai koto da.
Cinta itu bisa membuat orang buta akan segalanya
hanya demi rasa sayang terhadap sang kekasih.
Kita juga tau apa maknanya cinta itu.
Cinta pasti bisa membuat orang merasakan suka dan duka pada waktu yang sama ketika kita berusaha mendapat kebahagiaan bersama.
Jadi bukanlah kebahagiaan untuk kita sendiri.
Meskipun demikian kita jangan samapi salah langkah agar tidak menuju kesengsaraan. Lakukanlah demi orang yang kamu kasihi agar kau tidak merasa sia-sia tanpa guna. Karena hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih hidup (Losta Masta).
Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita menyadari betapa berharganya kita, dan adanya seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi.
CInta tidaklah sebatas kata-kata saja, karena cinta jauh lebih berharga daripada harta karun termahal di dunia pun.
Saat seseorang memegang tanganmu dan bilang ” Aku cinta kamu…” pasti menjadi perasaan hangat yang istimewa!
Karena itu, saat kamu sudah menemukan seseorang yang begitu berharga buat kamu, jangan pernah lepaskan dia! Namun adakalanya cinta begitu menyakitkan, dan satu-satunya jalan untuk menunjukkan cintamu hanyalah merlekan dia pergi.
Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan sang pemilik perasaan sekalipun.
ret
Jika kita sudah mengenal cinta, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini.
Akan tetapi, bila cinta kita tak terbalas, kita akan merasa bahwa kita adalah orang paling malang dan kita akan kehilangan gairah hidup.
Dengan cinta, kita bisa belajar untuk menghargai sesama, serta berusaha untuk melindungi orang yang kita cintai, apaun yang akan terjadi pada kita. Ai ga kirei’n da!
Cinta merupakan anugerah yang tak ternilai harganya dan itu di berikan kepada makhluk yang paling sempurna, manusia.
Cinta tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa apaun. Cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan juga dengan perasaan.
Cinta adalah perasaan yang universal, tak mengenalgender, usia, suku ataupun ras.
Tak perduli cinta dengan sesama mansuia, dengan tumbuhan, binatang, roh halus,ataupun dengan Sang Pencipta. Lagipula, cintaitu buta. Buta sama dengan meraba-raba. Jadi… cinta itu meraba-raba…(^o^)/… meraba-raba isi hati yang dicinta…
MAKNA CINTA SEJATI
der
“Tiada hari tanpa ngobrolin cinta…”
Betul itu, tidak salah. Setiap hari dan setiap saat semua orang di dunia ini tak pernah berhenti-henti membicarakan masalah yang berkaitan dengan cinta.
Dalam kehidupan manusia, cinta sering menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri, kadang-kadang mencintai orang lain. Cinta pada diri sendiri membuat seseorang akan mampu menjaga dirinya. Bayangkan kalau seseorang tidak mencintai diri sendiri, pasti ia takkan peduli dengan kondisi dirinya. Kalau ia sudah mencintai diri sendiri, akan muncul dorongan sebaliknya, yaitu membenci segala sesuatu yang dapat memadorotkan dirinya. Namun yang patut diingat adalah cinta pada diri sendiri pun harus diimbangi dengan bentuk-bentuk cinta pada yang lain.
Lalu Cinta itu sendiri apa?
Menurut pandangan umum, Cinta adalah sebuah perasaan ingin membagi secara bersama-sama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain baik berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa saja yang diinginkan objek tersebut.
Tapi menurut saya, Cinta itu pada dasarnya adalah untuk saling menyelamatkan, saling melindungi dan membahagiakan diri. Jika kita mencintai diri atau pun orang lain dengan sepenuh hati, itu artinya kita menggantungkan diri pada makhluk yang dengan berbagai kelemahannya belum tentu dapat memberikan semua kebahagiannnya. Oleh karena itu, cinta yang sepenuh hati hanya patut kita berikan pada Sang Khalik yang sudah pasti memberikan respon yang dapat menentramkan hati, karena Dia pasti akan memberikan balasan setimpal bahkan lebih daripada yang kita berikan kepada-Nya.

Monday, July 23, 2012

Sikapi Perbedaan 1 Ramadan Secara Dewasa

Sikapi Perbedaan 1 Ramadan Secara Dewasa

INILAH.COM, Jakarta - Wasekjen Majelis Ulama Indonesia Pusat, Zainut Tauhid mengatakan perbedaan dalam penentuan puasa bulan Ramadan memang masih akan ada di setiap tahunnya. Namun, perbedaan itu perlu disikapi secara dewasa.

"Saya kira perbedaan itu disikapi secara dewasa, saling pengertian dengan keyakinan masing-masing, baik yang berpuasa terlebih dulu maupun yang belakangan. Jangan sampai dijadikan sebagai upaya memecahbelah, saling mengejek, tapi tetap jaga dan bangun ukhuwwah Islamiyahnya," ujar Zainut saat dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Jum'at, (20/7/2012).

Menurutnya, upaya untuk mempersatukan sudah sering dilakukan baik dengan cara diskusi atau kajian ilmiah, musyawarah dan lainnya. Namun memang, sampai saat ini belum ada titik temu karena adanya metode masing-masing dalam mengambil keputusan. "Jadi, sepanjang hal itu tidak ada titik temu selama itu juga akan ada perbedaan terkait wujudul hilal," terangnya.

Menurutnya, metode yang dilakukan ada dua pendekatan yaitu wujudul hilal dan intanur rukyat. Wujudul hilal itu bagaimana hitungan dari hilal muncul, persatuan pertemuan antara matahari dengan bulan hingga bergeser 1 derajat dan ijtima' itu terwujud.
Kemudian, pendekatan intanur rukyat. Meskipun bulan sudah wujud tapi tidak bisa dilihat dengan mata telanjang maupun dengan alat teknologi canggih, maka belum ada bulan berarti belum terlihat pergantian bulan.

"Nah itu sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, 'berpuasalah setelah melihat bulan dan berbukalah setelah melihat bulan'. Artinya, berpuasa Ramadhan setelah melihat bulan dan menentukan Syawal juga setelah melihat bulan," jelas Zainu.

Menurutnya, dalam rapat itsbat kemarin ada dari ahli astronomi seperti Lapan dan Boscha serta ormas-ormas Islam lainnya kecuali Muhammadiyah. "Mereka juga tidak melihat adanya bulan, padahal itu sudah menggunakan alat teknologi," kata Zainut kembali.

Menurut Zainut, ketentuan itu bagaimana bulan bisa dilihat setelah 2 derajat baik dengan mata telanjang maupun alat canggih teknologi. Sementara, wujudul hilal itu yang penting bergesernya bulan dan matahari sebelum waktu Maghrib.

"Kalau sebelum Maghrib itu sudah terlihat maka dinyatakan sudah berganti bulan, tapi kalau setelah Maghrib itu belum. Nah, menurut Muhammadiyah kemarin itu melihat hilal pukul 11.00 WIB sekitar 6 jam," paparnya.[jat]

Dikatakan oleh Zainut, penentuan derajat intanur rukyat sudah disepakati oleh ulama MUI dan se-Asean bahwa melihat atau menyaksikan bulan itu di atas 2 derajat, di bawah itu mustahil dapat dilihat.

Di samping itu, ada juga yang menentukan puasa itu dengan menggunakan perhitungan hisab, tapi bisa dengan pendekatan hisab konjungsi ijma 2 derajat dengan bulan. "Jadi, hisab mutlak perhitungan semata dan hisab melihat dengan bulan," singkatnya.

Dengan demikian, karena ini menyangkut keyakinan dalam menentukan kapan puasa, maka tidak perlu ada aturan khusus UU. "Jadi tidak perlu ada UU, yang terpenting tetap menjaga kesatuan dan persatuan umat, saling toleransi. Semoga kalau semangatnya ukhuwah Islamiyah, sebentar lagi juga akan satu persepsi," imbuhnya.

Hal senada dilontarkan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur'an Nusantara dan Indonesia, Yusuf Mansur bahwa tidak perlu ada pengaturan khusus terkait perbedaan puasa Ramadhan yang kerap terulang setiap tahunnya. "Tidak perlu dibuat aturan, tidak ketemu juga tidak apa-apa kan. Jadi kalem saja," singkatnya.

Yusuf mengatakan bahwa perbedaan seperti ini memang setiap tahunnya terjadi, karena ya memang sudah modelnya seperti itu berbeda metode dalam melakukan hisab dan hilal.

"Ini kan setiap tahun sudah biasa ya, modelnya gini. Dari situ indahnya Islam untuk tingkatkan toleransi, yang puasa duluan dihormati dan yang belum puasa bisa membantu menyuguhkan yang berpuasa. Yang penting fokus pada ibadahnya bukan pada perbedaannya," tukasnya.

NU-Muhammadiyah Rayakan Lebaran pada 19 Agustus

NU-Muhammadiyah Rayakan Lebaran 

pada 19 Agustus

Metrotvnews.com, Jakarta: Perbedaan penetapan awal Ramadan nampaknya tak akan terjadi pada penetapan Idul Fitri. Sebab, 1 Syawal 1433 Hijriah diperkirakan jatuh pada 19 Agustus mendatang.

"Idul Fitri sama, yaitu tanggal 19 Agustus karena pada tanggal 17 Agustus posisi hilal masih di bawah ufuk. Maka bulan baru tanggal 1 Syawal 1433 H jatuh pada lusa harinya yaitu tanggal 19 Agustus," kata salah satu pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Marifat Iman KH di Jakarta, Ahad (22/7).

Sebelumnya, Ketua PMI Jusuf Kalla menyatakan lebaran Idul Fitri 1 Syawal akan jatuh pada 19 Agustus akan bersamaan dirayakan umat Islam.

Marifat Iman yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Pusat menegaskan, posisi hilal seperti itu semua umat Islam Indonesia sepakat untuk menetapkan awal bulan lusa harinya.

Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Masdar F Masudi juga senada. Menurutnya kalender NU menetapkan awal 1 Syawal sama pada 19 Agustus 2012. "Sebenarnya NU juga mempunyai hitungan hisab yang diperkokoh dengan rukyat atau melihat hilal atau bulan itu," kata Masdar F Masudi saat dihubungi.

Hemat dia, kebersamaan menentukan 1 Syawal ini baik karena tidak membingungkan umat. "Ya intinya baguslah kalau ada kesamaan sehingga tidak ada perbedaan," pungkasnya.(MI/TII)

Bertoleransi Menyambut Beda Ramadan

Bertoleransi Menyambut Beda Ramadan

Umat Islam dipastikan berbeda hari dalam menyambut Ramadan 1433 Hijriyah, 20 dan 21 Juli 2012. Perbedaan ini dikarenakan hilal sebagai penanda kedatangan bulan baru berstatus “kritis” dengan posisi kurang dari dua derajat. Bagi yang berpegang pada wujudul hilal, kondisi ini tidak mempengaruhi keyakinan akan kedatangan bulan baru. Sebaliknya, kalangan rukyat dan imkanurukyat, mustahil akan menerima klaim tersebut karena syarat ilmu pengetahuan yang menandai “keterlihatan” hilal belum terpenuhi.
Perbedaan kriteria tentang awal bulan baru Hijriyah sebenarnya bukan sesuatu yang baru, bahkan jarang menimbulkan “kegaduhan”. Baru dalam satu tahun terakhir, terutama setelah geger sidang isbat (penetapan) Idul Fitri 2011, penghormatan atas perbedaan itu mulai luntur dengan tameng persatuan umat. Sama halnya menjelang penetapan awal Ramadan 2012, sikap non-tasamuh (toleransi) itu juga mulai terlontar ke publik dengan cara mengecam pihak yang berbeda dengan mainstream.
Upaya “mempersatukan” umat Islam dalam menyambut festival keagamaan seperti Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, memang patut dihargai. Namun, apresiasi ini tentu bukan legitimasi untuk pemaksaan pemahaman, apalagi menyeret institusi negara diikutsertakan sebagai institusi keagamaan. Sebab, masing-masing kalangan yang berbeda itu memiliki dalil dan dalih yang bisa dipertanggungjawabkan.
Merujuk pada sumber primer Islam, kata (imkanur) rukyat maupun hisab, sebenarnya tidak tersurat dalam Alquran. Perintah berpuasa maupun berhari raya tercantum dalam kalimat faman syahida minkum al-syahra falyashumh (QS al-Baqarah: 185). Kata kunci yang digunakan adalah bulan baru (new month), bukan cara “melihat atau mengetahui” hilal, yang kemudian hari berkembang pada metode hisab, rukyat dan imkanurrukyat.
Berangkat dari diktum ini, kalangan (imkanur) rukyat memaknai syahida sebagai melihat dengan mata kepala (bi al-‘ain) –juga teropong–, maupun dengan kriteria tertentu yang mempersyaratkan hilal kemungkinan bisa terlihat. Sementara bagi yang berpegang hisab, kata syahida tidak bisa dipersempit hanya melihat dengan mata kepala tetapi juga dengan penalaran ilmiah (bil ‘aqli wa al-ma’rifatih). Sebab, meminjam istilah al-Ashfahani dalam al-Mufradat fiy Gharib al-Quran, syahida ternyata bisa berarti melihat dengan al-bashar (mata) dan al-bashirah (penalaran ilmu).
Jika dalil pokoknya telah melahirkan perbedaan, perbedaan lebih banyak juga muncul dari bayan ayat puasa (hadis) yang berbicara rukyat. Perbedaan ini adalah lumrah mengingat Alquran sendiri memberi ruang terjadinya multitafsir. Dalam penelitian T Saksono (2001), rukyat (ra’a) dengan segala variannya disebut Alquran sebanyak 297 kali: 75,08 persen bermakna melihat secara kognitif, dan 24,92 persen yang bermakna melihat secara visual.
Secara doktrin maupun sosiologis, sikap terbaik untuk menyikapi perbedaan melihat hilal adalah saling mengapresiasi. Selama kedua metode yang sama-sama punya dalil naqli dan aqli itu belum bersepakat maka yang perlu dikembangkan adalah sikap saling menghormati dalam suasana kesatuan dan persatuan (bukan sekadar bersama-sama) serta saling membantu, meskipun berbeda hari. Merujuk QS al-Hujurat: 10, sepanjang iman masih dalam dada maka seberapa besar perbedaan di antara paham dalam Islam pasti dapat dipersaudarakan.
Selain itu, argumentasi sosiologis bahwa perbedaan penentuan awal bulan menimbulkan disharmoni di kalangan umat Islam, juga pantas dipertanyakan. Sebab, perbedaan dalam menjalankan ibadah bukanlah sesuatu yang baru di negeri ini. Selain pengalaman perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha yang sudah berulang kali, juga ada perbedaan jumlah rakaat Salat Tarawih, kunut dalam Salat Subuh dan masih banyak lagi. Nyatanya, perbedaan itu berjalan biasa bahkan hampir tidak menimbulkan gejolak berarti.
Ketidakmasalahan atas perbedaan di tingkat awam ini karena mereka cukup dewasa dalam memahami ijtihad penentuan awal bulan Hijriyah. Perbedaan justru mencuat menjadi penyebab perseteruan kalau dibesar-besarkan oleh para elite yang seperti tidak bisa menerima perbedaan. Seperti yang terjadi dalam penentuan Idul Fitri 1432 H, “gejolak” hanya terjadi di sekian elite yang saling tidak bisa menjaga etika berbeda pendapat. Mereka sering kali berkoar atas nama keresahan umat meski kenyataan lapangan justru memperlihatkan realitas sebaliknya.
Jika alasannya adalah menimbulkan gejolak di internal komunitasnya, masalah ini justru tantangan bagi mereka untuk memberi pencerahan dan pencerdasan. Sebab, keberadaan mereka sangat mempengaruhi untuk membangun kerukunan di masyarakat serta mempererat jalinan interaksi dan komunikasi antar warga. Sehingga, kalangan umat yang tidak bisa menerima perbedaan seharusnya disadarkan bahwa masalah itu masih dalam koridor Islam, yang tentunya harus dihormati.
Yang jelas, keyakinan kedatangan hilal yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah mahdlah seperti puasa Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, tentu tidak bisa diberangus demi “kebersamaan” waktu. Sebab, tidak mungkin seseorang yang meyakini hari tertentu sudah bertanggal 1 Ramadan, harus menunda puasa. Karena, dalam dirinya sudah tertanam keyakinan bahwa hukum berpuasa 1 Ramadan adalah wajib. Begitu juga sebaliknya, tidak mungkin seseorang dipaksa berpuasa jika dirinya masih berkeyakinan bahwa hari itu belum masuk Ramadan.
Karena perbedaan hisab dan rukyat tersangkut dengan keyakinan keagamaan, siapa pun boleh setuju atau tidak setuju. Sebab, keyakinan itu terkait dengan kesadaran Ilahiah yang autentik dan tidak bisa dibatasi oleh rumus-rumus legal dan formal. Keinginan membangun ukhuwah tentu tidak dimaksudkan untuk menyamakan semua masalah dalam Islam yang sejatinya memang memiliki perbedaan.
Sementara pemerintah harus bertindak adil dan bijaksana dalam memberikan kemudahan, perlindungan dan pengamanan yang sama kepada masyarakat yang berbeda pendapat dalam penentuan awal bulan qamariyah. Sebab, institusi negara bukanlah aktor keagamaan yang memihak, melainkan birokrat yang tidak bertugas mengurusi praktik keagamaan. Jika memang ada prinsip yang belum bisa dipersatukan, yang harus dilakukan adalah menjamin kebebasan beragama/kepercayaan warga negaranya secara adil. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Pendaftaran Santri Baru PM Insan al-Muwahhid Purwokerto

SELAMAT DATANG SANTRI BARU TAHUN 2021/2022

 SELAMAT DATANG CALON SANTRI BARU PESANTREN INSAN AL-MUWAHHID PURWOKERTO Ayo daftar sekarang juga tinggal klik 👉 http://bit.ly/PSBAlmuwahhi...