Sunday, July 29, 2012

Arti Cinta


ArTi CiNtA

arti-cinta
Adakah secercah harapan yang kau titipkan untukku
Adakah sekeping cinta hati yang bisa aku singgahi
Adakah segenggam mimpi yang bisa kau simpan untukku..
Agar kepingan ini bisa bersatu kembali.
Setelah hancur berkeping-keping..
Cinta…
Hidup terasa hampa tanpamu..
Raga ini terasa hancur
Bagai puing-puing bangunan
Yang berserakan tanpa sentuhan kasihmu..
Cinta…
Setiap orang selalu memanggil manamu
Setiap orang selalu membutuhkanmu
Setiap orang berusaha menggapaimu
Cinta….
Mengapa ada saja yang selalu mengganggumu
Mengapa ada saja yang selalu mempermainkanmu
Merayumu, membuaimu..
Kemudian mencampakkanmu..
Cinta…
Engkau terlalu indah untuk disakiti
Engkau terlalu berharga untuk dipermainkan
Engkau terlalu sempurna untuk dicampakkan.
Cinta…
Jadilah engkau bak mutiara dilautan
Yang selalu bersinar
Memancarkan cahayanya yang berkilauan
Walau engkau berada dalam lumpur yang paling dalam..
Cinta….
Sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling….(saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll).
Cinta……
Tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat berjalan apabila ke-2 belah phiak melakukan “saling” tersebut…
cinta…..
Tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri.
Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih
dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.
Cinta adalah memberikan kasih sayang bukannya rantai.
Cinta juga tidak bisa dipaksakan dan datangnya pun kadang secara tidak di sengaja.
Cinta indah namun kepedihan yang ditinggalkannya
kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri.
Batas cinta dan benci juga amat tipis
tapi dengan cinta dunia yang kita jalani serasa lebih ringan.
Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya
karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah dan lain lain).
Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan,
haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya,
tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak.
Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama.
Cinta….
Sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci
yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat,
Pribadi cinta itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik daripada sebelum ia mengenal cinta itu.
Cinta itu sesuatu yang suci dan janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan ke-egoisan kita
yang hanya menginginkan enaknya buat kita dan ndak enaknya buat kamu.
cinta dibutuhkan PENGERTIAN!
Suatu perasaan terdalam manusia yangmembuatnya rela berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya.
Pengorbanannya itu tulus, tidak mengharap balasan.
Kalau misalnya memberi banyak hadiah ke seseorang tapi dengan syarat orang itu harus membalasnya dengan mau jadi kekasihnya, itu bukan cinta namanya.
Cinta tidak bisa diukur dengan materi ataupun yang berasal dari dunia fana.
Dan percayalah… cinta terbesar biasanya selalu datang dari ibu kandung, bukan dari pacar (sebab cinta pacar bisa luntur suatu saat atau setelah menikah kelak).
Cinta, membuat bahagia, duka ataupun buta.
Cinta itu penuh pengorbanan, kepahitan, keindahan dan kehangatan.
Cinta adalah sebuah keinginan untuk memberi tanpa harus meminta apa-apa,
namun cinta akan menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. CInta adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan. Ai wa atatakai koto da.
Cinta itu bisa membuat orang buta akan segalanya
hanya demi rasa sayang terhadap sang kekasih.
Kita juga tau apa maknanya cinta itu.
Cinta pasti bisa membuat orang merasakan suka dan duka pada waktu yang sama ketika kita berusaha mendapat kebahagiaan bersama.
Jadi bukanlah kebahagiaan untuk kita sendiri.
Meskipun demikian kita jangan samapi salah langkah agar tidak menuju kesengsaraan. Lakukanlah demi orang yang kamu kasihi agar kau tidak merasa sia-sia tanpa guna. Karena hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih hidup (Losta Masta).
Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita menyadari betapa berharganya kita, dan adanya seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi.
CInta tidaklah sebatas kata-kata saja, karena cinta jauh lebih berharga daripada harta karun termahal di dunia pun.
Saat seseorang memegang tanganmu dan bilang ” Aku cinta kamu…” pasti menjadi perasaan hangat yang istimewa!
Karena itu, saat kamu sudah menemukan seseorang yang begitu berharga buat kamu, jangan pernah lepaskan dia! Namun adakalanya cinta begitu menyakitkan, dan satu-satunya jalan untuk menunjukkan cintamu hanyalah merlekan dia pergi.
Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan sang pemilik perasaan sekalipun.
ret
Jika kita sudah mengenal cinta, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini.
Akan tetapi, bila cinta kita tak terbalas, kita akan merasa bahwa kita adalah orang paling malang dan kita akan kehilangan gairah hidup.
Dengan cinta, kita bisa belajar untuk menghargai sesama, serta berusaha untuk melindungi orang yang kita cintai, apaun yang akan terjadi pada kita. Ai ga kirei’n da!
Cinta merupakan anugerah yang tak ternilai harganya dan itu di berikan kepada makhluk yang paling sempurna, manusia.
Cinta tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa apaun. Cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan juga dengan perasaan.
Cinta adalah perasaan yang universal, tak mengenalgender, usia, suku ataupun ras.
Tak perduli cinta dengan sesama mansuia, dengan tumbuhan, binatang, roh halus,ataupun dengan Sang Pencipta. Lagipula, cintaitu buta. Buta sama dengan meraba-raba. Jadi… cinta itu meraba-raba…(^o^)/… meraba-raba isi hati yang dicinta…
MAKNA CINTA SEJATI
der
“Tiada hari tanpa ngobrolin cinta…”
Betul itu, tidak salah. Setiap hari dan setiap saat semua orang di dunia ini tak pernah berhenti-henti membicarakan masalah yang berkaitan dengan cinta.
Dalam kehidupan manusia, cinta sering menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri, kadang-kadang mencintai orang lain. Cinta pada diri sendiri membuat seseorang akan mampu menjaga dirinya. Bayangkan kalau seseorang tidak mencintai diri sendiri, pasti ia takkan peduli dengan kondisi dirinya. Kalau ia sudah mencintai diri sendiri, akan muncul dorongan sebaliknya, yaitu membenci segala sesuatu yang dapat memadorotkan dirinya. Namun yang patut diingat adalah cinta pada diri sendiri pun harus diimbangi dengan bentuk-bentuk cinta pada yang lain.
Lalu Cinta itu sendiri apa?
Menurut pandangan umum, Cinta adalah sebuah perasaan ingin membagi secara bersama-sama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain baik berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa saja yang diinginkan objek tersebut.
Tapi menurut saya, Cinta itu pada dasarnya adalah untuk saling menyelamatkan, saling melindungi dan membahagiakan diri. Jika kita mencintai diri atau pun orang lain dengan sepenuh hati, itu artinya kita menggantungkan diri pada makhluk yang dengan berbagai kelemahannya belum tentu dapat memberikan semua kebahagiannnya. Oleh karena itu, cinta yang sepenuh hati hanya patut kita berikan pada Sang Khalik yang sudah pasti memberikan respon yang dapat menentramkan hati, karena Dia pasti akan memberikan balasan setimpal bahkan lebih daripada yang kita berikan kepada-Nya.

Monday, July 23, 2012

Sikapi Perbedaan 1 Ramadan Secara Dewasa

Sikapi Perbedaan 1 Ramadan Secara Dewasa

INILAH.COM, Jakarta - Wasekjen Majelis Ulama Indonesia Pusat, Zainut Tauhid mengatakan perbedaan dalam penentuan puasa bulan Ramadan memang masih akan ada di setiap tahunnya. Namun, perbedaan itu perlu disikapi secara dewasa.

"Saya kira perbedaan itu disikapi secara dewasa, saling pengertian dengan keyakinan masing-masing, baik yang berpuasa terlebih dulu maupun yang belakangan. Jangan sampai dijadikan sebagai upaya memecahbelah, saling mengejek, tapi tetap jaga dan bangun ukhuwwah Islamiyahnya," ujar Zainut saat dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Jum'at, (20/7/2012).

Menurutnya, upaya untuk mempersatukan sudah sering dilakukan baik dengan cara diskusi atau kajian ilmiah, musyawarah dan lainnya. Namun memang, sampai saat ini belum ada titik temu karena adanya metode masing-masing dalam mengambil keputusan. "Jadi, sepanjang hal itu tidak ada titik temu selama itu juga akan ada perbedaan terkait wujudul hilal," terangnya.

Menurutnya, metode yang dilakukan ada dua pendekatan yaitu wujudul hilal dan intanur rukyat. Wujudul hilal itu bagaimana hitungan dari hilal muncul, persatuan pertemuan antara matahari dengan bulan hingga bergeser 1 derajat dan ijtima' itu terwujud.
Kemudian, pendekatan intanur rukyat. Meskipun bulan sudah wujud tapi tidak bisa dilihat dengan mata telanjang maupun dengan alat teknologi canggih, maka belum ada bulan berarti belum terlihat pergantian bulan.

"Nah itu sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, 'berpuasalah setelah melihat bulan dan berbukalah setelah melihat bulan'. Artinya, berpuasa Ramadhan setelah melihat bulan dan menentukan Syawal juga setelah melihat bulan," jelas Zainu.

Menurutnya, dalam rapat itsbat kemarin ada dari ahli astronomi seperti Lapan dan Boscha serta ormas-ormas Islam lainnya kecuali Muhammadiyah. "Mereka juga tidak melihat adanya bulan, padahal itu sudah menggunakan alat teknologi," kata Zainut kembali.

Menurut Zainut, ketentuan itu bagaimana bulan bisa dilihat setelah 2 derajat baik dengan mata telanjang maupun alat canggih teknologi. Sementara, wujudul hilal itu yang penting bergesernya bulan dan matahari sebelum waktu Maghrib.

"Kalau sebelum Maghrib itu sudah terlihat maka dinyatakan sudah berganti bulan, tapi kalau setelah Maghrib itu belum. Nah, menurut Muhammadiyah kemarin itu melihat hilal pukul 11.00 WIB sekitar 6 jam," paparnya.[jat]

Dikatakan oleh Zainut, penentuan derajat intanur rukyat sudah disepakati oleh ulama MUI dan se-Asean bahwa melihat atau menyaksikan bulan itu di atas 2 derajat, di bawah itu mustahil dapat dilihat.

Di samping itu, ada juga yang menentukan puasa itu dengan menggunakan perhitungan hisab, tapi bisa dengan pendekatan hisab konjungsi ijma 2 derajat dengan bulan. "Jadi, hisab mutlak perhitungan semata dan hisab melihat dengan bulan," singkatnya.

Dengan demikian, karena ini menyangkut keyakinan dalam menentukan kapan puasa, maka tidak perlu ada aturan khusus UU. "Jadi tidak perlu ada UU, yang terpenting tetap menjaga kesatuan dan persatuan umat, saling toleransi. Semoga kalau semangatnya ukhuwah Islamiyah, sebentar lagi juga akan satu persepsi," imbuhnya.

Hal senada dilontarkan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur'an Nusantara dan Indonesia, Yusuf Mansur bahwa tidak perlu ada pengaturan khusus terkait perbedaan puasa Ramadhan yang kerap terulang setiap tahunnya. "Tidak perlu dibuat aturan, tidak ketemu juga tidak apa-apa kan. Jadi kalem saja," singkatnya.

Yusuf mengatakan bahwa perbedaan seperti ini memang setiap tahunnya terjadi, karena ya memang sudah modelnya seperti itu berbeda metode dalam melakukan hisab dan hilal.

"Ini kan setiap tahun sudah biasa ya, modelnya gini. Dari situ indahnya Islam untuk tingkatkan toleransi, yang puasa duluan dihormati dan yang belum puasa bisa membantu menyuguhkan yang berpuasa. Yang penting fokus pada ibadahnya bukan pada perbedaannya," tukasnya.

NU-Muhammadiyah Rayakan Lebaran pada 19 Agustus

NU-Muhammadiyah Rayakan Lebaran 

pada 19 Agustus

Metrotvnews.com, Jakarta: Perbedaan penetapan awal Ramadan nampaknya tak akan terjadi pada penetapan Idul Fitri. Sebab, 1 Syawal 1433 Hijriah diperkirakan jatuh pada 19 Agustus mendatang.

"Idul Fitri sama, yaitu tanggal 19 Agustus karena pada tanggal 17 Agustus posisi hilal masih di bawah ufuk. Maka bulan baru tanggal 1 Syawal 1433 H jatuh pada lusa harinya yaitu tanggal 19 Agustus," kata salah satu pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Marifat Iman KH di Jakarta, Ahad (22/7).

Sebelumnya, Ketua PMI Jusuf Kalla menyatakan lebaran Idul Fitri 1 Syawal akan jatuh pada 19 Agustus akan bersamaan dirayakan umat Islam.

Marifat Iman yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Pusat menegaskan, posisi hilal seperti itu semua umat Islam Indonesia sepakat untuk menetapkan awal bulan lusa harinya.

Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Masdar F Masudi juga senada. Menurutnya kalender NU menetapkan awal 1 Syawal sama pada 19 Agustus 2012. "Sebenarnya NU juga mempunyai hitungan hisab yang diperkokoh dengan rukyat atau melihat hilal atau bulan itu," kata Masdar F Masudi saat dihubungi.

Hemat dia, kebersamaan menentukan 1 Syawal ini baik karena tidak membingungkan umat. "Ya intinya baguslah kalau ada kesamaan sehingga tidak ada perbedaan," pungkasnya.(MI/TII)

Bertoleransi Menyambut Beda Ramadan

Bertoleransi Menyambut Beda Ramadan

Umat Islam dipastikan berbeda hari dalam menyambut Ramadan 1433 Hijriyah, 20 dan 21 Juli 2012. Perbedaan ini dikarenakan hilal sebagai penanda kedatangan bulan baru berstatus “kritis” dengan posisi kurang dari dua derajat. Bagi yang berpegang pada wujudul hilal, kondisi ini tidak mempengaruhi keyakinan akan kedatangan bulan baru. Sebaliknya, kalangan rukyat dan imkanurukyat, mustahil akan menerima klaim tersebut karena syarat ilmu pengetahuan yang menandai “keterlihatan” hilal belum terpenuhi.
Perbedaan kriteria tentang awal bulan baru Hijriyah sebenarnya bukan sesuatu yang baru, bahkan jarang menimbulkan “kegaduhan”. Baru dalam satu tahun terakhir, terutama setelah geger sidang isbat (penetapan) Idul Fitri 2011, penghormatan atas perbedaan itu mulai luntur dengan tameng persatuan umat. Sama halnya menjelang penetapan awal Ramadan 2012, sikap non-tasamuh (toleransi) itu juga mulai terlontar ke publik dengan cara mengecam pihak yang berbeda dengan mainstream.
Upaya “mempersatukan” umat Islam dalam menyambut festival keagamaan seperti Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, memang patut dihargai. Namun, apresiasi ini tentu bukan legitimasi untuk pemaksaan pemahaman, apalagi menyeret institusi negara diikutsertakan sebagai institusi keagamaan. Sebab, masing-masing kalangan yang berbeda itu memiliki dalil dan dalih yang bisa dipertanggungjawabkan.
Merujuk pada sumber primer Islam, kata (imkanur) rukyat maupun hisab, sebenarnya tidak tersurat dalam Alquran. Perintah berpuasa maupun berhari raya tercantum dalam kalimat faman syahida minkum al-syahra falyashumh (QS al-Baqarah: 185). Kata kunci yang digunakan adalah bulan baru (new month), bukan cara “melihat atau mengetahui” hilal, yang kemudian hari berkembang pada metode hisab, rukyat dan imkanurrukyat.
Berangkat dari diktum ini, kalangan (imkanur) rukyat memaknai syahida sebagai melihat dengan mata kepala (bi al-‘ain) –juga teropong–, maupun dengan kriteria tertentu yang mempersyaratkan hilal kemungkinan bisa terlihat. Sementara bagi yang berpegang hisab, kata syahida tidak bisa dipersempit hanya melihat dengan mata kepala tetapi juga dengan penalaran ilmiah (bil ‘aqli wa al-ma’rifatih). Sebab, meminjam istilah al-Ashfahani dalam al-Mufradat fiy Gharib al-Quran, syahida ternyata bisa berarti melihat dengan al-bashar (mata) dan al-bashirah (penalaran ilmu).
Jika dalil pokoknya telah melahirkan perbedaan, perbedaan lebih banyak juga muncul dari bayan ayat puasa (hadis) yang berbicara rukyat. Perbedaan ini adalah lumrah mengingat Alquran sendiri memberi ruang terjadinya multitafsir. Dalam penelitian T Saksono (2001), rukyat (ra’a) dengan segala variannya disebut Alquran sebanyak 297 kali: 75,08 persen bermakna melihat secara kognitif, dan 24,92 persen yang bermakna melihat secara visual.
Secara doktrin maupun sosiologis, sikap terbaik untuk menyikapi perbedaan melihat hilal adalah saling mengapresiasi. Selama kedua metode yang sama-sama punya dalil naqli dan aqli itu belum bersepakat maka yang perlu dikembangkan adalah sikap saling menghormati dalam suasana kesatuan dan persatuan (bukan sekadar bersama-sama) serta saling membantu, meskipun berbeda hari. Merujuk QS al-Hujurat: 10, sepanjang iman masih dalam dada maka seberapa besar perbedaan di antara paham dalam Islam pasti dapat dipersaudarakan.
Selain itu, argumentasi sosiologis bahwa perbedaan penentuan awal bulan menimbulkan disharmoni di kalangan umat Islam, juga pantas dipertanyakan. Sebab, perbedaan dalam menjalankan ibadah bukanlah sesuatu yang baru di negeri ini. Selain pengalaman perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha yang sudah berulang kali, juga ada perbedaan jumlah rakaat Salat Tarawih, kunut dalam Salat Subuh dan masih banyak lagi. Nyatanya, perbedaan itu berjalan biasa bahkan hampir tidak menimbulkan gejolak berarti.
Ketidakmasalahan atas perbedaan di tingkat awam ini karena mereka cukup dewasa dalam memahami ijtihad penentuan awal bulan Hijriyah. Perbedaan justru mencuat menjadi penyebab perseteruan kalau dibesar-besarkan oleh para elite yang seperti tidak bisa menerima perbedaan. Seperti yang terjadi dalam penentuan Idul Fitri 1432 H, “gejolak” hanya terjadi di sekian elite yang saling tidak bisa menjaga etika berbeda pendapat. Mereka sering kali berkoar atas nama keresahan umat meski kenyataan lapangan justru memperlihatkan realitas sebaliknya.
Jika alasannya adalah menimbulkan gejolak di internal komunitasnya, masalah ini justru tantangan bagi mereka untuk memberi pencerahan dan pencerdasan. Sebab, keberadaan mereka sangat mempengaruhi untuk membangun kerukunan di masyarakat serta mempererat jalinan interaksi dan komunikasi antar warga. Sehingga, kalangan umat yang tidak bisa menerima perbedaan seharusnya disadarkan bahwa masalah itu masih dalam koridor Islam, yang tentunya harus dihormati.
Yang jelas, keyakinan kedatangan hilal yang terkait erat dengan pelaksanaan ibadah mahdlah seperti puasa Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, tentu tidak bisa diberangus demi “kebersamaan” waktu. Sebab, tidak mungkin seseorang yang meyakini hari tertentu sudah bertanggal 1 Ramadan, harus menunda puasa. Karena, dalam dirinya sudah tertanam keyakinan bahwa hukum berpuasa 1 Ramadan adalah wajib. Begitu juga sebaliknya, tidak mungkin seseorang dipaksa berpuasa jika dirinya masih berkeyakinan bahwa hari itu belum masuk Ramadan.
Karena perbedaan hisab dan rukyat tersangkut dengan keyakinan keagamaan, siapa pun boleh setuju atau tidak setuju. Sebab, keyakinan itu terkait dengan kesadaran Ilahiah yang autentik dan tidak bisa dibatasi oleh rumus-rumus legal dan formal. Keinginan membangun ukhuwah tentu tidak dimaksudkan untuk menyamakan semua masalah dalam Islam yang sejatinya memang memiliki perbedaan.
Sementara pemerintah harus bertindak adil dan bijaksana dalam memberikan kemudahan, perlindungan dan pengamanan yang sama kepada masyarakat yang berbeda pendapat dalam penentuan awal bulan qamariyah. Sebab, institusi negara bukanlah aktor keagamaan yang memihak, melainkan birokrat yang tidak bertugas mengurusi praktik keagamaan. Jika memang ada prinsip yang belum bisa dipersatukan, yang harus dilakukan adalah menjamin kebebasan beragama/kepercayaan warga negaranya secara adil. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Spirit Ramadhan nan Sejati

Spirit Ramadhan nan Sejati
Oleh : Duski Samad
Ketua MUI Kota Padang

Jelang puasa Ramadhan setiap tahunnya, pemerintah disibukkan dengan persiapan pemenuhan kebutuhan pokok (sembako) masyarakat. Berita di media juga tidak ketinggalan menginformasikan bahwa harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional dan swalayan mulai merangkak naik. Bahkan, ada informasi yang mencemaskan tentang adanya sekelompok orang yang memanfaatkan peluang pasar ini dengan cara tidak wajar, misalnya berita Waspadai Aksi Spekulan (Padek, Rabu 11 Juli 2012, hl. 16).  

Kenyataan tingginya permintaan akan kebutuhan harian di bulan Ramadhan secara kasat mata dapat dimaklumi. Namun bila direnungkan dengan pesan yang dituju dari ibadah Ramadhan, maka hati menjadi sedih, karena Ramadhan belum mampu mengubah pola hidup umat.

Bulan Ramadhan yang dika­ta­kan sebagai bulan di mana umat Islam berpuasa, tentu ha­rus­nya akan mengurangi pema­kaian kebutuhan harian (sem­bako), karena jam makan me­reka dikurang sedemikian rupa. Rea­litasnya, justru terbalik di bu­lan Ramadhan tingkat ke­butu­han umat Islam begitu me­ning­kat tajam.

Kenyataan bulan Ramadhan be­lum dapat menahan laju syah­wat dan nafsu—khususnya nafsu dan syahwat hedonis (mau nik­mat)—adalah pekerjaan rumah dan mestinya menjadi renungan un­tuk mereka yang ingin meraih ke­takwaan melalui jalur puasa. Pa­tut diingatkan kepada mereka yang ingin mendapat piala takwa di bulan nan suci, hendaklah me­reka mampu hidup lebih sed­er­hana dan prihatin, seba­gaimana orang-orang mis­kin yang sudah la­zim tak makan, karena kepa­paannya. Membatasi diri dari ma­kanan, minuman dan kebu­tu­han puasa yang berlebihan ada­lah cara terbaik untuk men­dapat nilai puasa itu.

Sambut nan Suci dengan Suci

Dalam percakapan sehari-hari, Ramadhan dikatakan seba­gai bulan suci. Selamat datang bu­lan suci Ramadhan 1433 H, Mar­haban ya Ramadhan, mari kita sambut bulan maghfirah dan rahmah! Begitu di antara bu­nyi spanduk penyambutan Ra­­madhan di jalan-jalan dan mas­jid. Mengatakan Ramadhan se­bagai bulan suci adalah bentuk peng­hargaan terhadap penting­nya Ramadhan bagi umat Islam. Kehadiran Ramadhan setiap ta­hunnya disambut gegap gem­pita dan suka ria oleh umat Islam, karena memang begitu sabda Ra­sul, siapa saja yang menyam­but kedatangan Ramadhan de­ngan suka cita, maka akan diha­ram­kan tubuhnya dari api nera­ka, begitu hadis sebagai­mana di­sampaikan para mubalig men­jelang Ramadhan tiba.

Pengakuan bahwa Ra­mad­han bulan suci sudah dekat dan le­kat di hati umat Islam, mes­ki­pun itu baru dalam artifi­sial dan belum menyentuh segi fun­da­mental dari hakekat kesu­cian Ra­madhan itu. Ibadah Ra­mad­han—puasa, Shalat Tara­wih, men­d­engar pengajian Ramad­han, berinfak dan ibadah lain­nya—pada dasarnya adalah media pelatihan jiwa dan rohani umat menuju kehidupan yang ber­­kualitas. Kualitas yang diha­rap­kan tentu meningkatnya mu­tu sebagai manusia yang tetap fi­trah di saat kejahiliyaan hampir m­e­rata di seluruh penjuru, upa­ya penjagaan diri dari ber­bagai bentuk kemaksiatan, kesia-siaan dan kerendahan terasa lebih bu­tuh untuk ditekankan.

Upaya menjaga kesucian Ra­madhan dengan menjaga ke­su­cian diri dengan segala per­bua­tan yang menyertainya da­lam kajian ilmu akhlak itu puncak akhlak mulia, yaitu iffah. Iffah ada­lah bahasa yang lebih akrab untuk menyatakan upaya pen­ja­gaan diri ini. Iffah sendiri me­mi­liki makna usaha meme­lihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal, makruh dan ter­cela. Ada beberapa hal yang bisa me­numbuhkan iffah, yang se­wa­jarnya diusahakan oleh se­orang muslim atau muslimah yang sedang menyambut keda­ta­­ngan Ramadhan, di antaranya: men­jemput takwa dan budaya malu.

Menjemput Takwa

Takwa adalah asas paling fun­damental dalam mengu­sa­hakan iffah pada diri seseo­rang. Ke­takwaan adalah pengekang se­seorang dari perbuatan-per­bua­tan tercela yang dilarang aga­ma Islam. Takwa akan me­nye­babkan seseorang selalu ber­hati da­lam melakukan ber­bagai per­bua­tan, baik di kala sendirian ma­u­­pun keramaian m­e­nga­mal­kan sabda Nabi, “Bertakwalah ke­pada Allah di mana pun ka­mu berada…” segala anggota tu­buh akan selalu terjaga jangan sam­pai melanggar larangan Allah, sehingga terjerumus dalam ke­­murkaan-Nya. Mulutnya ter­jaga dari pembicaraan yang ber­mua­tan dosa, baik dosa ke­pada Allah, maupun dosa ke­pada ma­nusia seperti gibah, fitnah, adu domba, berdusta, me­ngum­pat kepada takdir, mencela za­man dan lain sebagainya.

Tangannya pun terjaga dari hal yang dilarang seperti me­ngambil yang bukan haknya, me­mukul tanpa kebenaran, ber­sentuhan dengan yang bukan ma­h­ram dan lainnya. Mata pun de­mikian, tak kalah dengan ang­gota tubuh yang lain tak ingin ter­­jerumus dalam mengumbar pan­dangan yang diharamkan, dan seluruh anggota tubuh yang lain­nya selalu terjauh dari lara­ngan Allah azza wa jalla. Sung­guh ketika takwa berdiam pada diri seseorang, maka munculah pri­badi yang penuh dengan hia­san yang tak tertandingi ke­indahannya. Mengalahkan ke­indahan mutiara, emas, perak, ber­l­ian dan hiasan dunia yang lain­­nya. Takwa tak sebatas ha­nya di masjid, atau di tempat ka­jian saja, namun ia melekat di ma­na pun dan kapan pun. Di rumah, tempat belajar, sekolah, kantor dan di segala tempat.

Budaya Malu

Pendidikan yang sangat pen­ting yang harus dibiasakan di bulan Ramadhan adalah budaya ma­lu. Malu adalah sifat yang agung dan terpuji. Dengan rasa ma­lu, seorang akan terhindar dari berbagai perbuatan yang keji, tidak pantas, mengandung do­sa dan kemaksiatan. Ia men­jadi bertambah indah ketika me­lekat pada diri seorang mus­li­mah. Dengan malu, se­orang muslimah akan selalu nampak dalam fitrah kewanitaannya, tak mau mengumbar aurat tubuh­nya, tak mau mengeraskan suara yang tak diperlukan di tengah kumpulan manusia, tak tertawa de­ngan selepas-lepasnya dan yang lain sebagainya. Orang yang awam sekalipun bila disu­ruh untuk memberikan peni­laian terhadap dua orang, yang se­orang adalah wanita yang men­­jaga rasa malunya. Seorang lagi tak pedulian, tak punya rasa malu terhadap orang, bicara se­enaknya duduk seenaknya, se­galanya seenaknya tentu orang akan memberikan penilaian tinggi pada wanita yang pertama daripada wanita yang kedua.

Rasa malu ini benar-benar akan menjadi penjaga yang baik ba­gi seorang muslimah. Ia akan me­nyedikitkan beraktivitas ke­luar rumah yang tanpa faedah, ia akan menjaga diri ketika berbicara dengan orang terlebih laki-laki yang bukan mahram. Ten­tu hal ini akan lebih menjaga ke­­hormatannya. Tentu sifat ma­lu akan sangat besar artinya ba­gi orang-orang yang melak­sa­na­kan ibadah di bulan Ra­madhan di saat orang men­didik diri­nya untuk meraih hidup takwa.

Sejatinya, pesan suci yang di­hembuskan oleh bulan Ra­madhan sudah sejak lama ter­ngiang di telinga umat, namun mereka sering kalah oleh badai hi­dup hedonis dan materialistik. Ra­yuan iklan, godaan reklame dan suguhan infotaiment yang di­lakoni selebritis dan artis, benar-benar sudah menjadi virus ganas yang mematikan ruh bu­lan nan suci ini. Kemasan aca­ra buka bersama dengan segala tawaran wah-wahnya, atas nama kesehatan dalam mela­ku­kan puasa, dan alasan klise lain­nya, telah menjadikan iba­dah puasa Ramadhan men­jadi ritual yang kering makna. Semoga umat terus mendidik diri, keluarga dan lingkungan, se­hingga keda­ta­ngan Ra­mad­han dapat mem­bawa peru­bahan perilaku dan gaya hidup yang iffah, takwa dan ber­mar­tabat. Selamat ber­juang me­raih hidup takwa. Amin.  
(Dikutip dari Harian Pagi Padang Expres pada hari senin, 23 Juli 2012)


Menuju Tuhannya

Barisan laki laki menuju pura dan perempuan dalam kebaya wajah wajah pasrah berbagai rupa berangkat menuju Tuhannya di gerbang pura barisan merapat berharap dinaungi para dewa hidup telah diserahkan ada janji yang terucap pada kalimt suci tengah malam meski tak bisa merubah dunia tapi harapan tetap dinyalakan nyanyian alam memecah hening mereka larut dalam doa munuju muara kebesaran pencipta

ALLAH MAHA BESAR

Terimakasih ya Allah Atas segala perlindungan Ampuni aku bila salah Kepada Mu tempatku mengadu Terimakasih atas semua rahmah Saat ini dan masa lalu Allah Maha Besar Hanya Allah yangku sembah Kabulkan doaku Doa kami, doa anak dan istri Doa rakyat, doa orang-orang teraniaya Kubur semua penderitaan Allah Maha Besar Beri kami kebaikan, kebahagiaan Beri kami kekuatan, melawan kenistaan Melawan kezaliman Membantu rakyat miskin Allah, kabulkan doa kami Amin ya Allah (Puisi ini dikuti dari karya Djunaedi Tjunti Agus dari Suara Karya online pada hari senin, 23 Juli 2012)

Karena Kau! Musim Tak Pernah Bersemi

Bila tiba musim semi, langit mekar bertabur bintang Bumi dan gunung rentangkan kesejukan Pancarkan gelora rasa Bunga-bunga indah pun semakin segar Baluti hati yang penuh luka perih AuraMu itu sangatlah jelas Biaskan cahaya penuh makna, anggun dan semua sirna Kata-kata sempit ini semakin terbata Kelu, terlena pesona nuansa Tapi, kau...!!! Saat itu berlalu tanpa kata Dan di sini, dibalik jeruji jiwa gelap ini, musim semi tak pernah ada Yang tinggal hanyalah kemarau panjang Resah dan gelisah pun terus meradang Gerogoti nurani, lukai hati Hingga tubuh kering kerontang. Lunglai, tak mampu berdiri

Tips Agar Isteri Selalu Kangen dengan Anda

Jalinan asmara yang telah lama terbina terkadang menjadikan hubungan terasa hambar. isteri pun terlihat tidak pernah lagi merindukan Anda. Padahal, rindu menjadi bumbu dalam hubungan asmara pasangan suami isteri. Setiap isteri pasti merasa senang saat mengetahui suaminya merindukannya. Itu menandakan bahwa sang suami masih mencintai pasangannya. Ingin membuat isteri selalu kangen dengan Anda? Ikuti tipsnya berikut ini: 1. Memberikan Dia Kebebasan Hampir setiap hari bertemu tentu saja membuat isteri tidak merindukan Anda. Untuk itu jangan memaksanya untuk terus-terusan bertemu. Berikan dia kebebasan agar dia melakukan hal-hal yang disukainya. Mempunyai 'ruang' antar Anda dan isteri bisa membuat si dia merindukan Anda. 2. Akhiri Pembicaraan Sebelum Ia Menginginkannya Akhiri perbincangan Anda ditelepon sebelum ia menginginkannya. Hal itu membuat si dia merindukan Anda dan akan menjadi lebih sering menelepon Anda. 3. Menolak Ajakan Kencan Mendadak Ini cara untuk membuat si dia semakin merindukan Anda, sekaligus membuatnya lebih menghargai Anda. Dengan begitu si dia akan menganggap Anda lebih penting. 4. Tetap Pergi Meski Dia Tidak Mau Menemani Anda sangat ingin pergi ke toko buku, mall atau museum, namun si dia menolak menemani Anda. Tetaplah pergi tanpanya. Pergi sendiri atau bersama teman, akan menunjukkan bahwa Anda wanita yang tidak bergantung padanya. Dengan begini, si dia akan merubah sikapnya dan menjadi lebih antusias untuk memenuhi kegiatan yang Anda suka untuk bisa dilakuakn bersama. Anda pun jadi menyadari, bahwa tidak terlalu membutuhkannya dan minimalisir sikap manja kepadanya. Kunci agar kekasih merindukan Anda adalah dengan tidak takut melakukan banyak hal tanpanya.

Kiat sehat Ramadlon

Agar stamina tetap terjaga selama bulan RAMADHAN konsumsilah buah"an APEL : Ayo Pelajari al-Qur'an JERUK : Jangan berbuat buruk ANGGUR : Anggota tubuh gemar bersyukur JAMBU : Jaga amanah dalam Qalbu TOMAT : Tobat Maksiat TALAS : Tak ada kata malas PISANG : Pantang Iri, Sombong & Angkuh MENTIMUN : Menuntut Ilmu & jangan melamun SALAK : Shalat tuk perbaiki Akhlak Marhaban Yaa Ramadhan... Putus cinta bikin glau Status lucu bikin ketawa Walau puasa di musim kemarau Tetap semangat dan tak putus asa! Makan bubur semangkuk berdua Pagi sahur sorenya buka Lauk telur enak rasanya Niatnya luhur jalankan puasa Semoga di bulan Ramadhan ini kita bisa beningkan hati seperti XL, Dapat berpikir luas seperti SIMPATI,memberi maaf secara cuma-cuma seperti AS, memberi banyak kesempatan seperti IM3, murah senyum seperti JEMPOL dan yang paling penting kita dapat berpikir cerah seperti MENTARI. Sebelum cahaya Illahi dipadamkan, sebelum langit runtuh, sebelum pintu taubat ditutup,sebelum malaikat menjemput, maka memasuki bulan suci ramadhan ini, izinkanlah aku ungkapkan maaf kalau ada perkataan yang menyinggung sampai telinga panas seperti ESIA.

Sunday, July 22, 2012

Marhaban ya Romadlon

Tak ada kata seindah zikir Tak ada bulan seindah Ramadhan Ijinkan kedua tangan bersimpuh maaf untuk lisan yg tak terjaga janji yg terabaikan, hati yang slalu berprasangka dan sikap yang pernah menyakitkan. Maaf lahir batin. Selamat menunaikan ibadah puasa

Pendaftaran Santri Baru PM Insan al-Muwahhid Purwokerto

SELAMAT DATANG SANTRI BARU TAHUN 2021/2022

 SELAMAT DATANG CALON SANTRI BARU PESANTREN INSAN AL-MUWAHHID PURWOKERTO Ayo daftar sekarang juga tinggal klik 👉 http://bit.ly/PSBAlmuwahhi...